LOGO RAJA BUAH PUKUL

LIAN PADUKAN - KING OF BUAH PUKUL.
Simple, Logic, Effective and Practical.


" SENJATA LAPAN, GAYANG LIMA TA' LIAN PADUKAN HILANG DI DUNIA."

http://www.lianpadukan.com/

Wednesday, April 28, 2010

Hang Tuah


Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu adalah pahlawan-pahlawan Melayu yang terbilang. Tun Perak, Bendahara Seri Maharaja Melaka sewaktu hayatnya mempunyai kepercayaan penuh kepada pahlawan-pahlawan ini sehingga Melaka menjadi makmur, aman dan sentosa.

Walaupun ada Kerma Wijaya dan Raja Mendeliar yang sering menabur fitnah tetapi Tun Perak berjaya mematahkannya kerana Tun Perak adalah orang yang bijaksana. Tun Perak tidak termakan fitnah kerana Tun Perak mengamalkan prinsip untuk mendengar dahulu segala aduan, segala penerangan, dan segala yang perlu didengar daripada pihak-pihak yang bertelagah.

Tun Perak, Bendahara Seri Maharaja Melaka tidak cepat melenting dan menghukum tidak tentu pasal.

Mari kita bina negara kita ( LIAN PADUKAN ) ini dengan segala prinsip yang baik :

BINALAH KEMBALI MELAKAMU

Tun Perak Seri Maharaja,
binalah Melakamu
dengan setia Hang Tuah
bara Hang Jebat
sekata Kasturi, Lekir dan Lekiu.

Kukuh itu puncanya setia
bara penghindar leka
sekata untuk mara.

Kalau datang Kerma Wijaya
membawa fitnah
datang Mendeliar
menghembur seranah,
Berbentenglah kau Tun Perak,
pada Tuah yang setia,
Jebat yang berbara,
Kasturi, Lekir, Lekiu yang sekata.




( Puisi Dato’ Prof. Dr. Hashim Yaacob. Saya teruja mendengar puisi beliau dalam majlis perjumpaan wartawan2 Melayu Kelantan baru-baru ini di Kota Bahru ).

Thursday, April 15, 2010

Lagu Ilir ilir



Salam,
Saya nak berkongsi lagu di atas bertajuk Ilir-ilir. Lagu bahasa jawa yang di cipta oleh sunan kalijaga. memang lagu ini masyarakat islam indonesia sudah tahu. Bagi saya ini kali pertama. Saya jumpa di Kelantan. Translasi bahasa melayu juga di berikan yang di ambil dari blog2 lain. semoga anda juga sukakan melody dan makna yang cuba di sampaikan. kalau yang berminat cubalah cari makna dan pengertian lagu tersebut. Ini hanyalah sekadar perkongsian saya. Saya suka dengan keaslian lagu, melody dan makna lagu ini dan harap saudara pun begitu. Semoga ambil iktibar dari nya

Lirik :
Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…



1. Lir-ilir, Lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)
Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)

Makna: Sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan Tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.

2. Cah angon, cah angon (Anak gembala, anak gembala)
Penekno Blimbing kuwi (Panjatlah (pohon) belimbing itu)
Lunyu-lunyu penekno (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)
Kanggo mbasuh dodotiro (untuk membasuh pakaianmu)

Makna: Disini disebut anak gembala karena oleh Alloh, kita telah diberikan sesuatu untuk digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya?

Si anak gembala diminta memanjat pohon belimbing yang notabene buah belimbing bergerigi lima buah. Buah belimbing disini menggambarkan lima rukun Islam. Jadi meskipun licin, meskipun susah kita harus tetap memanjat pohon belimbing tersebut dalam arti sekuat tenaga kita tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya.
Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lalu apa gunanya? Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita yaitu pakaian taqwa.

3. Dodotiro, dodotiro (Pakaianmu, pakaianmu)
Kumitir bedah ing pinggir (terkoyak-koyak dibagian samping)
Dondomono, Jlumatono (Jahitlah, Benahilah!!)
Kanggo sebo mengko sore (untuk menghadap nanti sore)

Makna: Pakaian taqwa kita sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk itu kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kelak kita sudah siap ketika dipanggil menghadap kehadirat Alloh SWT.

Dodot adalah pakaian orang jawa.

4. Mumpung padhang rembulane (selagi masih bulan bersinar terang)
Mumpung jembar kalangane (selagi banyak waktu terluang / luas )
Yo surako surak iyo!!! (Bersoraklah dengan sorakan Iya!!!)

Makna: Kita diharapkan melakukan hal-hal diatas (no 1-3) ketika kita masih sehat (dialambangkan dengan terangnya bulan) dan masih mempunyai banyak waktu luang dan jika ada yang mengingatkan maka jawablah dengan Iya!!!


“Mengenai langkah yang harus dijalani, janganlah kamu berlebihan, hiduplah dengan bersahaja, jangan sombong dalam berbicara, dan jangan berlebihan terhadap sesama manusia. Itulah langkah sempurna yang sejati.

Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur, lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang salah. Hanya itulah langkah yang sejati.”

(Sajarah Wali, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang jati, Naskah Mertasinga, Wahjoe: Pustaka, 2005)